Undip, Semarang (18/05/2026) – Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro sukses menyelenggarakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Tingkat Internasional (International Community Service) di kawasan Dieng, tepatnya di Desa Mlandi, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, pada 12–13 Mei 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran akademisi SPs Undip, pakar internasional dari Malaysia dan Belanda, perwakilan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, perangkat desa, serta masyarakat setempat. Rangkaian pemaparan ilmiah dan diskusi panel dilaksanakan secara kronologis, dimulai dari perspektif kebijakan daerah hingga strategi teknis transisi energi global.
Sebagai pembuka, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Wonosobo, Bapak Nurudin Ardiyanto,S.T., M.T. menegaskan posisi strategis Wonosobo sebagai simpul ekologis hulu bagi kawasan Dieng, Serayu, dan Bogowonto. Pemerintah daerah berkomitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan infrastruktur, pengelolaan sumber daya air, dan pelestarian lingkungan. Melalui kolaborasi bersama SPs Undip, Desa Mlandi diarahkan menjadi living laboratory yang menghasilkan policy brief serta peta zonasi tata ruang desa berbasis konservasi guna mendukung kesejahteraan jangka panjang masyarakat.
Selanjutnya, Dwi Cahyo Utomo, Ph.D. selaku field leader memaparkan hasil analisis spasial terkait tekanan konversi lahan (rent gap) di Desa Mlandi. Data periode 2023–2026 menunjukkan penyusutan lahan pertanian produktif sebesar 8,64 persen akibat alih fungsi menjadi pemukiman dan fasilitas wisata non-permanen (glamping). Kondisi ini berpotensi mendegradasi daerah tangkapan air (DTA) hulu, meningkatkan timbulan sampah anorganik, serta memicu lonjakan beban listrik desa.
Sebagai solusi, SPs Undip mengintroduksi konsep Picohydro-Powered Glamping Areas, yakni strategi penataan ruang wisata berbasis agro-glamping dengan prinsip low impact development. Model ini memanfaatkan energi bersih dari aliran irigasi pegunungan melalui instalasi picohydro, sekaligus mendorong pengelolaan fasilitas wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Perspektif manajemen fasilitas dan integrasi energi terbarukan diperdalam oleh Prof. SR TS. Dr. Syahrul Nizam Kamaruzzaman dari Universiti Malaya. Dalam paparannya bertajuk “Integrating Renewable Energy toward Sustainable and Energy-Efficient Facilities: Case Study Glamping in Wonosobo”, ia menekankan bahwa sektor bangunan merupakan kontributor signifikan emisi CO₂ dan konsumsi listrik global. Oleh karena itu, penerapan prinsip sustainability yang terintegrasi dengan praktik Facility Management (FM) menjadi kunci dalam menekan emisi karbon, meningkatkan efisiensi operasional, memperpanjang siklus hidup aset, serta memperkuat ketahanan energi (energy resilience). Ia menilai potensi sumber daya air Wonosobo sangat mendukung pengembangan akomodasi wisata berbasis energi terbarukan yang aman dan berdaya saing.

Pemaparan konsep Picohydro-Powered Glamping sebagai solusi energi bersih dan edukasi keberlanjutan di kawasan Dieng, Wonosobo
Sebagai penutup rangkaian presentasi, Prof. Dr. ir. A.G. Bram Entrop dari Saxion University of Applied Sciences menyampaikan materi bertajuk “Challenges and Opportunities in the Energy Transition: Some Observations in the Netherlands”. Ia menekankan pentingnya penerapan prinsip Trias Energetica dalam membangun sistem energi kawasan yang berkelanjutan, yakni dengan mengurangi kebutuhan energi, memaksimalkan pemanfaatan sumber energi terbarukan lokal, serta mengoptimalkan efisiensi penggunaan energi konvensional apabila masih diperlukan.
Prof. Bram turut membagikan praktik implementasi sistem termal suhu rendah (low temperature thermal system) di University of Twente serta manajemen energi terpadu di Pure Energie Enschede, Belanda. Melalui prinsip keseimbangan energi (energy balance), ia menegaskan pentingnya menjaga proporsionalitas antara energi yang masuk dan keluar kawasan konservasi guna mempertahankan stabilitas ekosistem mikro Dieng.
Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin ini, SPs Undip bersama Pemerintah Kabupaten Wonosobo optimistis dapat merumuskan cetak biru pembangunan wilayah hulu yang mengintegrasikan aspek air, pangan, energi, tata ruang, serta pemberdayaan kelembagaan lokal seperti BUMDes dan P3A. Dari Wonosobo, hulu dijaga; dari hulu, keberlanjutan negeri diwujudkan.